SEBELUM SENADI

Suatu sore bulan Februari 2017, di sebuah kafe bilangan Jakarta Selatan, 4 orang dengan sejarah persahabatan yang berbeda bertemu, beberapa diantaranya sudah berteman sejak SD, SMP, SMA, dan bahkan TK. Maudhy Setiawan, Alexandra Bastedo, Yuka Narendra, dan Yoga Adhitrisna merasakan kepedulian bersama atas nilai-nilai nasionalisme di kalangan generasi muda penerus bangsa, yang pada saat itu dirasa hanya mampu tampil sebagai ‘mantra kosong’ belaka.

Ngopi sore itu dilanjutkan dengan mengembangkan jejaring kerjasama dengan semangat yang sama. Konsolidasi jaringan yang pesat menimbulkan kebutuhan akan identitas untuk kelompok ini. Dengan bergabungnya Satriyo Wibowo (Bowo), rekan kerja Yoga, pada tahun 2018, think tank ini menamakan dirinya sebagai ‘SemestaID.’

Semangat ‘Inspirasi-Inisiatif-Pemberdayaan’ SemestaID membawa Yuka dan Maudhy bertemu dengan Maesa Samola, teman lama dari SMA mereka. Berniat untuk meningkatkan pengembangan ruh ke tingkat yang lebih tinggi, mereka sepakat untuk melegalkannya dalam bentuk lembaga resmi. Maka, pada November 2019, Yayasan SENADI (singkatan dari ‘Semesta Nusantara Adidaya’) resmi berdiri di Surabaya. Kata ‘Semesta’ tetap dipertahankan, karena mereka percaya pada kekuatan Semesta yang telah menyatukan mereka, dan akan selalu mendukung mereka ketika mereka juga mendukung Semesta. Kata ‘senadi’ sendiri dapat diterjemahkan secara bebas dalam bahasa Indonesia sebagai ‘satu aliran darah’.

Saat ini, Maesa, Yuka, Maudhy, dan Alex berperan aktif di Yayasan SENADI, sementara Yoga dan Bowo aktif mendukung sebagai Afiliasi Inspirasi SENADI, melalui perusahaan agensi pemasaran mereka, Berakar Komunikasi (http://berakar.com/).
(MS/IX/21)