(Tulisan ini dibuat sebagai sebuah memoar mengenang almarhum E.A. Aristides Katoppo dalam rangka peringatan ulang tahun kedua Yayasan Senad tanggal 6 November 2021, yang dirayakan pada hari ini tanggal 11 November 2021, di KeKini Ruang Bersama, Cikini, Jakarta Pusat).
“Juk, kalau gue bikin biro iklan di sini lu mau ngejalaninnya nggak?” tanya Maesa Samola kepada saya suatu hari di outlet Starbucks Coffee yang berada di pekarangan kantornya, Graha Pena, Surabaya. Pertanyaan tersebut menjadi awal dari kisah keluh kesah Maesa tentang perlunya perbaikan wawasan visual masyarakat Jawa Timur. Tentu saja keluh kesahnya tersambung dengan bagaimana hegemoni “industri periklanan Indonesia” yang terpusat di Jakarta. Mengapa disebut hegemonik? Menurut Maesa, keterpusatan industri tersebut seringkali mengalami bias perspektif yang mendasar yaitu asumsi bahwa Jakarta merepresentasikan Indonesia. Meski terkadang persoalan bias perspektif ini seringkali di seputar ranah produksi estetik, namun produksi estetik dalam konteks komunikasi massa mau tidak mau berujung pada problem ekonomi politik dan sosial budaya Indonesia. Tentu saja, rumit dan tidak selesai dengan olah visual indah saja. Apalagi ketika olahan visual tersebut berangkat dari asumsi yang keliru. Keliru tentang Indonesia dan masyarakatnya.
Dalam perbincangan itu, Maesa juga bercerita bahwa suatu hari, seseorang bernama Aristides Katoppo menghampirinya dan mengatakan demikian, “Maesa, sudah waktunya kau membuat semacam Salihara di Surabaya. Kau tinggal mencari partner dari lingkungan budaya, seseorang yang kelak berperan seperti Gunawan Mohammad di Salihara.” Demikian kira-kira tutur Maesa, menirukan ucapan Aristides Katoppo padanya. “Lu mau nggak Juk? Kalau mau ayo kita mulai rancang dari sekarang,” ujar Maesa pada saya. Siapa yang tidak mau, pikir saya. Akan tetapi, artinya diskusi lebih panjang perlu dilakukan lagi. Setelah cukup lama bertukar informasi dan gagasan, kami berdua berhasil menyelesaikan konsep artspace – atau ruang seni – yang kami beri nama SUB Space. SUB, adalah kode singkatan standar untuk bandara Juanda International Airport di Surabaya, yang diterbitkan oleh IATA (International Air Transport Association). Secara konseptual SUB Space merupakan sebuah ruang alternatif yang menyelenggarakan pendidikan dan pengembangan kebudayaan kontemporer, sebuah ruang untuk belajar dan bertumbuh bersama melalui produksi estetik dan produksi media.
Maesa lalu mengajak Maudhy Setiawan untuk bergabung. Maudhy adalah teman seangkatan kami sejak sekolah di SMA Pangudi Luhur dulu, yang berpengalaman dalam dunia organisasi seperti ini. Hampir dua dekade lamanya, Maudhy bekerja untuk lembaga internasional “berbendera biru.” Ia selalu menyebutnya demikian. Diskusi panjang antara kami bertiga selama beberapa tahun meyakinkan kami bahwa SUB Space dapat menjadi perantara atau fasilitator budaya secara komprehensif di Surabaya, agar dapat membentuk wajah budaya baru yang relevan bagi kondisi kontemporer masyarakat Jawa Timur umumnya. Kami bertiga juga melihat pentingnya pendidikan humaniora melalui pendekatan seni rupa dan produksi media sebagai jalan paling tepat dan sekaligus dapat berdampak secara 2 signifikan. Maka kemudian ide SUB Space berkembang menjadi sebuah sekolah. Mengapa sekolah? Jawabnya sederhana, karena sekolah sejatinya adalah sumber pencerahan dan pengetahuan, yang mampu melakukan transformasi budaya bagi peserta didiknya. Transformasi seperti inilah yang sebenarnya diperlukan oleh masyarakat Surabaya khususnya dan Jawa Timur umumnya. Lebih jauh dari itu? Tentu saja, Indonesia.
Maka kamipun membutuhkan lembaga untuk menaungi gagasan ini secara legal formal. Pilihan yayasan kami tentukan setelah diskusi yang cukup panjang dan melelahkan juga. Lalu lahirlah nama Semesta Nusantara Adidaya, yang oleh Maudhy disingkat menjadi Senadi. “Satu nafas, satu nadi, satu aliran darah,” ujarnya. Dari sinilah kami bertiga mulai menyusun apa yang kami dapat susun dan strukturkan. Bentuk yayasan menuntut kami untuk memiliki seorang pendiri. Persoalannya, kami bertiga ingin bekerja sementara sang pendiri yayasan lebih merupakan figur simbolik yang secara hukum tidak diperkenankan untuk terlibat dalam aktivitas yayasan sehari-hari. Lantas bagaimana? “Kalau pak Tides?” tanya Maesa pada Maudhy dan saya. Nama Aristides Katoppo pun kembali muncul. Tanpa beliau sendiri sadari, pak Tides telah berhasil memicu kami bertiga untuk berkutat dalam semesta gagasan ini semua, mulai dari artspace hingga sekolah dan akhirnya, yayasan. Jadi, mengapa tidak?

Setelah beberapa kali batal bertemu, akhirnya kamipun berhasil menceritakan rencana besar kami kepada pak Tides, di ruang tamu rumahnya, pada suatu malam di awal 2019. Pak Tides terlihat antusias dengan presentasi yang kami berikan. “Ayo kita buat sesuatu yang besar!” Kepada istrinya, pak Tides mengatakan bahwa ia pribadi tertarik dengan mimpi ketiga pemuda yang sowan malam-malam itu. Meski kami tidak muda lagi, ia tetap menyebut kami pemuda. “Ya karena kalian jauh lebih muda dari saya,” selorohnya. Pertemuan itu lantas ditutup dengan makan malam bersama. Tidak hanya masakan rumahnya yang lezat, pertemuan tersebut juga meninggalkan kesan mendalam – setidaknya – bagi saya pribadi. Bagaimana tidak? Saya hanya mengenal sosok Pak Tides sebagai jurnalis senior redaktur harian Sinar Harapan yang terakhir kali dibreidel oleh rezim Orde Baru pada bulan Oktober 1986. Saya juga mengenal beliau lantaran membaca bukunya yang berjudul “80 Tahun Bung Karno” dan “Menyingkap Kabut Halim 1965” semasa kuliah dulu. Ketika masih kuliah saya juga mengenal beliau sebagai salah satu pendiri AJI (Aliansi Jurnalis Independen) yang di masa itu dikenal berani menentang rezim Orde Baru. Itu saja. Selebihnya, saya hanya mendengar cerita Maesa ketika beliau memrovokasi Maesa untuk membangun ruang seni atau “pusat kebudayaan” di Surabaya. Gagasan gila sekaligus menggiurkan, yang akhirnya membawa kami bertiga duduk di meja makan bersama dengannya malam itu.
Kami pulang dari rumahnya dengan hati gembira karena kesediaan pak Tides menjadi pendiri yayasan. Kamipun segera memroses gagasan pembentukan yayasan ini secepat yang kami mampu secara legal formal. Tidak lupa mengajak beberapa teman untuk bergabung melengkapi struktur yayasan sebagai salah satu persyaratan legalnya. Mas Danang Harito Wibowo, mas Risman Sjarief dan mbak Alexandra Bastedo adalah figur-figur yang kami rasa tepat untuk ada dalam struktur tersebut. Setelah beberapa kali pertemuan, kami berhasil mendapatkan draft akta notaris untuk ditandatangani. Momentum besar yang ditunggu tiba sudah, demikian batin kami 3 bersorak. Langkah pertama yang harus dilakukan tentunya adalah kembali menghubungi pak Tides untuk penandatanganan akta. Antusiasme pak Tides tidak kalah tingginya, meskipun demikian, beliau tidak dapat mengelak dari sakit yang dideritanya. Setelah beberapa kali berganti jadwal, akhirnya kami sepakat untuk menandatanganinya di hari Kamis, tanggal 26 September 2019. Namun jadwal tersebut terpaksa ditunda karena Maesa mendapat kabar bahwa beliau harus dibawa ke rumah sakit. Tidak lama kemudian, hari Minggu tanggal 29 September 2019, beliau berpulang.
Masih dihinggapi rasa sedih dan kecewa, kami bertiga mengubah struktur yayasan sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Yayasan ini harus tetap berdiri atas berbagai alasan dan salah satunya, demi mengenang pak Tides sendiri. Pada tanggal 7 Desember 2019, dengan naik kereta api saya berangkat menuju Surabaya untuk menandatangani beberapa dokumen, lantas pulang lagi ke Jakarta. Tidak lama kemudian berganti tahun dan tiba-tiba dunia dilanda pandemi Covid19 yang dahsyat dan sejak itu untuk beberapa bulan lamanya, yayasan ini tidak melakukan apapun. Setelah (kembali ke) diskusi yang panjang, maka strategi pun perlu diubah. Seperti kata pak Tides, “Kita harus adaptif terhadap zaman. Kalau sudah harus berubah ya tidak boleh takut untuk berubah…” Tanpa terasa, sampailah kita pada titik ini: menyelenggarakan syukuran atas 2 tahun berdirinya yayasan Senadi, sambil mencermati proses proyek yang tengah berjalan. Proyek? Ya, Senadi berhasil mengayuh dayungnya untuk pertama kali menuju lautan luas. Uniknya, Senadi memulainya pelayaran perdananya justru dari Sampit, bukan Surabaya. Lebih unik lagi, Sampit dan Surabaya terletak dalam satu garis lurus tepat tegak lurus 90˚ pada peta. Jika awalnya Senadi ingin berkutat di ranah budaya anak muda urban, ternyata semua justru berawal dari hutan dan sungai. Kebetulan? Saya tidak percaya kebetulan.

Selamat ulang tahun Senadi. Bertumbuhkembanglah dan jadilah garam bagi dunia. Terima kasih pak Tides. Tanpamu, kami tidak akan pernah sampai di titik kami sekarang. Berbakti dengan sukarela hati, untuk tanah air kami.

Yuka Dian Narendra
(Ketua Umum Yayasan SENADI)
Bintaro, Jakarta Selatan,
11 November 2021.