Kehadiran museum dalam ruang kota merupakan penanda penting bagi peradaban modern. Tidak hanya sebagai tempat tempat belajar sejarah atau tujuan wisata liburan, museum adalah representasi kemanusiaan modern. Museum Kayu Sampit, sebagai salah satu penanda kota Sampit (Kabupaten Kotawaringin Timur / Kotim, Provinsi Kalimantan Tengah), berpotensi besar menjadi lokomotif contoh konkrit sentra edukasi budaya sejarah kota dan salah satu faktor kunci perencanaan strategis pengembangan kawasan industri pariwisata ramah lingkungan terpadu di masa depan. Hal ini sejalan dengan salah satu misi PT Rimba Makmur Utama (PT RMU), selaku pengelola kawasan konservasi Katingan-Mentaya Project, yakni “Mengembangkan dan meningkatkan ekonomi dan kesadaran lingkungan masyarakat sekitar kawasan”.
Sebagai mitra Pemerintah Kabupaten Kotim, PT RMU bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, selaku inisiator upaya revitalisasi Museum Kayu, pada Agustus 2021, mempercayakan pelaksanaan studi kelayakan awal inisiatif tersebut kepada Yayasan SENADI. Diawali dengan penerbitan iklan layanan masyarakat di harian Radar Sampit sebagai komitmen kolaborasi dukungan, kegiatan ini dibuka secara resmi dengan audiensi kepada Bupati Kotim, Bapak Halikinnor, didampingi PT. RMU dan Berakar Komunikasi pada 19 Oktober 2021.

Mencakup riset dan survey lapangan kepada para pemangku kepentingan di Kota Sampit dan wilayah sekitarnya, koordinasi lanjutan secara daring, focus group discussion secara hybrid oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kotim, serta penyusunannya, pada Maret 2022, laporan hasil studi kelayakan awal inisiatif revitalisasi Museum Kayu Sampit berjudul ‘Sampit Forever!’ telah diserahkan kepada PT RMU.
