Tentang Senadi
Visi Misi Tujuan
Logo Kami
Kami Senadi

Yayasan SENADI (singkatan dari SEMESTA NUSANTARA ADIDAYA) adalah organisasi nirlaba yang berfokus pada pendidikan dan kebudayaan di Indonesia. Kekuatan terbesar Indonesia terletak pada keragaman budayanya, yang merupakan perwujudan penuh rasa syukur manusia kepada Tuhan yang telah melimpahkan kekayaan alam dengan segala keragaman kehidupannya. Oleh karena itu, saling ketergantungan antara keragaman budaya dan kekayaan alam harus dibina agar terus tumbuh secara harmonis dan lestari untuk kepentingan masyarakat yang tinggal di dalamnya. Pandangan ini menjadi landasan filosofis Yayasan SENADI yang membantu mempersiapkan era dan peradaban baru. Oleh karena itu, SENADI berpendapat pendidikan sangat erat kaitannya dengan budaya dan jalan utama untuk memanusiakan manusia.

Yayasan SENADI percaya bahwa pendidikan berbasis budaya sangat penting untuk mencapai misi mereka. Yayasan SENADI ingin ikut serta mengembangkan karakter intelektual humanis dan kultural dengan menyelenggarakan pendidikan produksi media kontemporer. Mereka meyakini bahwa untuk mewujudkan Indonesia yang tumbuh dan berbudaya, masyarakat Indonesia perlu memiliki pemahaman dan penguasaan yang baik terhadap wawasan dan khazanah media. Apalagi di era sekarang ini, perkembangan media digital telah menyebabkan perubahan eksponensial dalam aspek sosial dan budaya yang membawa berbagai dampak yang tidak terduga. Di sisi lain, kemudahan akses teknologi media digital telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari, terutama bagi generasi muda.

Yayasan SENADI bertujuan mempersiapkan era dan peradaban baru dengan mengedepankan pendidikan berbasis budaya dan produksi media. Mereka berusaha untuk mengembangkan karakter intelektual humanistik dan budaya dan percaya bahwa pendidikan terkait erat dengan budaya, seperti menanam taman bunga lebih dari sekedar menumbuhkan bunga yang indah. SENADI bertujuan untuk membekali masyarakat Indonesia khususnya generasi muda dengan pemahaman dan penguasaan wawasan dan khazanah media yang baik dengan menyelenggarakan pendidikan produksi media kontemporer. Mereka bertujuan untuk memanfaatkan berbagai kemungkinan yang ditawarkan oleh produksi budaya untuk membentuk dunia dan budaya Indonesia di masa depan.

Visi SENADI adalah:
“Menumbuhkembangkan praktik budaya baru demi pemajuan kebudayaan Indonesia di kancah global, dan berperan aktif dalam keberlangsungan tatanan peradaban dunia.”

Misi SENADI adalah:
“Mendorong terbentuknya bermacam alternatif praktik budaya kaum muda yang kritis, kreatif, inovatif, mandiri dan terbuka; serta terlibat aktif dalam membentuk jiwa kenusantaraan, nilai-nilai kemanusiaan dan pengembangan demokrasi.”

Tujuan SENADI adalah:
“Menciptakan generasi muda yang piawai dalam berinovasi dan beradaptasi di bidang produksi media dengan wawasan humaniora, untuk memenuhi kebutuhan ideologi, sosial, politik, ekonomi dan budaya; demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat, dan memajukan kebudayaan Indonesia untuk peradaban dunia.”

Bunga Wijayakusuma (Epiphyllum Oxypetalum) merupakan bunga khas daerah tropis yang mekar di malam hari dengan aroma yang harum semerbak. Dalam bahasa Jawa kuno, Wijaya berarti “kemenangan,” dan Kusuma berarti “bunga.” Pada zaman kejayaan kerajaan Majapahit, Bunga Wijayakusuma dianggap sebagai bunga para raja dan ratu. Para raja dan ratu Majapahit wajib menanam bunga ini dari hasil tanamnya sendiri. Mereka meyakini bahwa bunga ini memiliki kekuatan magis yang besar dan membawa keberuntungan. Mereka juga percaya bahwa siapapun yang berhasil melihat langsung proses mekarnya bunga ini akan mendapatkan kemulyaan dan kebaikan dalam hidupnya.

Bunga Wijayakusuma yang dipilih menjadi logo dari Yayasan Senadi merepresentasikan harapan Senadi untuk dapat memberi kejayaan dan kemuliaan, kesehatan dan kebaikan bagi Nuswantara, dengan segala kemajemukan dan keluwesannya. Senadi percaya bahwa kemajemukan atau kebhinnekaan Nuswantara merupakan satu-satunya berkah dari Tuhan Maha Esa yang wajib disyukuri dan ditumbuhkembangkan. Keluwesan merupakan ciri khas manusia Nusantara yang selalu mengupayakan keselarasan dan kebersamaan dalam segala hal.

Gambar dari www.planterandforester.com

Ketua Dewan Pembina

Anggota Dewan Pembina

Penasehat & Pengawas

Direktur Pelaksana

Direktur Komunikasi & Sekretaris

Bendahara

Direktur Program

Keuangan

Maesa Samola

Ketua Dewan Pembina

Setelah belajar arsitektur di Universitas Trisakti, pada tahun 2001 Maesa Samola bekerja di stasiun radio sebagai salah satu peneliti media di perpustakaan radio tersebut. Kemudian di stasiun radio tersebut Maesa diangkat menjadi kepala bagian umum (General Affairs). Stasiun radio tersebut adalah Radio 68H, yang dikelola oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat yang berkecimpung dalam penumbuhkembangan demokrasi dan kebebasan informasi.

Pada tahun 2004, Maesa memutuskan untuk pindah ke perusahaan media besar yaitu Jawa Pos. Semasa di Jawa Pos, Maesa ditugaskan ke London untuk belajar aspek produksi dan teknis pertelevisian di BBC. Setelah itu ia pindah bekerja ke JTV, sebuah stasiun televisi lokal di Surabaya, Jawa Timur yang juga di bawah naungan grup Jawa Pos.

Pada tahun 2017, Maesa diangkat menjadi salah satu jajaran direksi Jawa Pos. Kini, Maesa adalah CEO JTV dan Jawa Pos Multimedia (JPM). JPM adalah stasiun televisi jaringan milik grup Jawa Pos yang di dalamnya terdapat lebih dari 30 stasiun televisi yang berjejaring di seluruh Indonesia.

Yuka D. Narendra

Anggota Dewan Pembina

Metalhead yang merupakan penggemar berat Rush, Voivod and Slayer ini lahir di Jakarta, 15 September 1972. Sejak lulus S1 tahun 2000 dari Jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Pelita Harapan, Yuka langsung terjun ke dunia pendidikan sebagai dosen di almamaternya. Yuka selalu tertarik mempelajari budaya populer sejak kuliah. Setelah memperoleh gelar master dalam Ilmu Budaya di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, pada tahun 2006, ia kembali mengajar di almamaternya dan beberapa universitas swasta lainnya.

Sejak itu Yuka aktif menulis dan mempresentasikan penelitiannya di berbagai forum ilmiah nasional dan internasional. Pada tahun 2018, Yuka merilis buku penelitiannya tentang Metalhead Indonesia generasi 1980-an. Bukunya berjudul “Heavy Metal Parents: Konstruksi Identitas Budaya Metalhead Indonesia Tahun 1980-an”. Buku ini seringkali disalah artikan sebagai buku teks ilmu psikologi tentang “parenting.”

Di waktu senggangnya, Yuka menghabiskan waktu di studio rekaman kecilnya, di mana ia telah menghasilkan lebih dari 20 album rekaman dari berbagai genre musik, mulai dari Metal, Grunge, Avant-Garde Jazz, Pop, dan Folk. Bersama istri dan putrinya, Yuka sering berburu makanan khas China karena dia suka makan enak.

Bagjo Indrijanto

Penasehat & Pengawas

Lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia, lebih banyak bergelut dalam perusahaan, sejak lulus sampai dengan tahun 1998, dengan beragam bidang, termasuk membidani berdirinya televisi swasta nasional pertama, Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI).

Tahun 1991 masuk ke dunia perbankan sebagai Corporate Secretary di Bank Utama dan Bank Istismarat Indonesia sampai 1997.Setelah dibekukan ditunjuk oleh (Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) menjadi tim penyelesaian pada tahun 1998, bersamaan dengan masa jatuhnya pemerintahan orde Baru.  Selain bekerja profesional, juga bergerak bersama teman-teman LSM, memperjuangkan hak-hak beribadah bagi masyarakat adat dan kepercayaan  terhadap Tuhan Hyang Maha Esa dari tahun 1990 sampai 2016.

Saat ini lebih banyak bergerak dalam bidang tulis menulis tentang ajaran leluhur Jawa dan juga melatih meditasi Jawa.

Maudhy Setiawan

Ketua

Penikmat kreativitas ini pernah menangani fasilitas pengolahan air limbah industri di Bandung, bermusik sebagai bassist band indie, bergabung dengan PBB sebagai peneliti pada United Nations Institute Training and Research (UNITAR) Jenewa-Swiss, menjadi direktur kreatif di agensi pemasaran di Jakarta, serta mengajar di bidang desain dan periklanan di beberapa universitas.

Didorong oleh pemikirannya yang haus akan hal baru, pengalaman profesional Sarjana Seni jurusan Desain Produk Industri Universitas Trisakti ini meliputi pendidikan tinggi bidang desain, bidang industri komunikasi pemasaran Above-The-Line dan Below-The-Line, termasuk event organizing dan perencanaan Meeting-Incentive-Conference-Exhibition, hingga manajemen branding dan strategi kehumasan.

Berdamai dengan fenomena New Normal sekarang dengan meyakini Old Wisdom kearifan lokal, saat ini Maudhy menikmati menjadi konsultan operasi bisnis kreatif untuk perusahaan startup terpilih yang sedang naik daun dari rumah, sambil menyusun beberapa proyek eksperiensial khusus, dan merancang t-shirt koleksi pribadinya.

Irto Rachman

Direktur Pelaksana

Lulus sebagai Sarjana Teknik dari Jurusan Teknik Sipil, Institut Teknologi Bandung (ITB), Irto justru menjalani karir profesionalnya di bidang Teknologi Informasi. Selama lebih dari 20 tahun Irto malang melintang sebagai profesional TI di berbagai perusahaan, dari nasional hingga multinasional pada berbagai bidang usaha dari konstruksi hingga retail.

Dikenal luas sebagai pecinta dan aktif sebagai praktisi berbagai cabang olah raga, Irto sebenarnya sangat memperhatikan dunia pendidikan dan merupakan seorang penikmat seni.

Persahabatan dan sisi lain dalam dirinya tersebut itulah yang pada akhirnya membawa dirinya untuk bergabung dengan Yayasan SENADI pada November 2022 sebagai Direktur Eksekutif. Meskipun demikian, Irto masih tetap menjabat sebagai Direktur pada perusahaan TI yang didirikannya terdahulu.

Alexandra Bastedo

Direktur Komunikasi & Sekretaris

Alexandra Bastedo berpengalaman lebih dari 25 tahun dalam menangani perencanaan, strategi, kreatif, dan pengelolaan program branding di Indonesia maupun di tingkat internasional.

Bachelor of Fine Arts (BFA) lulusan Academy of Art University, San Francisco, Amerika Serikat ini pernah bekerja di Landor Associates San Francisco, New York, Hong Kong, dan Jakarta, selama 16 tahun, dan di Interbrand Singapore dan Jakarta selama 4 tahun. Alexandra bertanggung jawab atas pengelolaan klien yang meliputi strategi, kreatif, serta operasional bisnis di Amerika Serikat, Asia, dan Indonesia.

Alex mendirikan kantor layanan jasa konsultan branding miliknya sendiri mulai 2019.

Risman Sjarif

Bendahara

Lahir di Tokyo, Jepang, pada tanggal 18 Mei 1964, Risman adalah sosok yang sudah malang-melintang di dunia bisnis. Berawal dari kiprahnya di industri bahan baku pupuk kimia, Risman pernah bermukim di Bali dan menjalankan bisnis pariwisata dengan membuka sebuah hotel. Selain bisnis, Risman memiliki ketertarikan besar pada budaya dan tradisi Nusantara, khususnya budaya dan tradisi Jawa.

Sekitar tahun 1993-1994 ketika masih tinggal di Bali untuk menjalankan bisnis wisatanya, Risman akhirnya memutuskan untuk secara serius belajar budaya, tradisi dan spiritualitas Nusantara, dan hal tersebut ditekuninya hingga kini. Keputusannya ini tentu unik karena Risman sebenarnya berasal dari latar belakang budaya Minang. Namun, seperti yang ia seringkali ungkapkan, “Begitulah seharusnya menjadi orang Indonesia, latar belakang budaya kita tidak boleh membatasi kita untuk merangkul bentuk budaya apapun, selama itu bertujuan untuk memerkaya khazanah budaya Nusantara.”

Felencia Hutabarat

Direktur Program

Felencia Hutabarat adalah salah satu pendiri JogjaFestivals dan Managing Director ke:kini ruang bersama (www.kekini.org), sebuah ruang yang diciptakan untuk mendukung gerakan sosial, seni, dan budaya di Indonesia. Selama 15 tahun terakhir, ia telah bekerja pada penelitian, kebijakan budaya, dan upaya advokasi dan hubungan yang saling terkait dengan ekonomi kreatif dan kota kreatif. Ia ikut serta dalam advokasi ratifikasi Konvensi UNESCO 2015 dan penulisan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Bidang Perfilman 2014-2019 di bawah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI.

Ia pernah bekerja sebagai Program Officer untuk Seni dan Budaya untuk Kantor Regional Hivos Asia Tenggara (2006-2011) dan memimpin penelitian analisis negara di sektor budaya Indonesia untuk Pusat Kebudayaan dan Pengembangan Denmark. Sejak 2010, ia memfokuskan karyanya pada Budaya dan Ekonomi Kreatif. Dia bekerja sebagai Konsultan Ekonomi Kreatif untuk British Council (2013-2018) di mana dia menjadi penghubung dan merancang program untuk mengimplementasikan Nota Kesepahaman antara pemerintah Inggris dan pemerintah Indonesia untuk mendukung Ekonomi Kreatif di Indonesia.

Dia juga salah satu pendiri Jaringan Kota Kreatif Indonesia / Indonesian Creative Cities Network (www.iccn.or.id), Asosiasi Coworking Space Indonesia (www.coworking.id), di mana dia saat ini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal; Peretas, sebuah organisasi yang fokus pada penciptaan sistem pendukung bagi perempuan yang bekerja di bidang seni. Ia adalah anggota Koalisi Seni Indonesia (www.koalisiseni.or.id).

Proyek terbarunya adalah menulis narasi Kota Tua Jakarta yang ditugaskan oleh Pemerintah Jakarta, dan Performance Appraisal: Analisis Implementasi Kebijakan Indeks Kota Kreatif, yang ditugaskan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia.

Koko Wijanarko

Keuangan

Menyelesaikan studi Ekonomi Akuntansi di Unika Atma Jaya Jakarta pada tahun 2007, Koko Wijanarko sempat bekerja di suatu Kantor Akuntan Publik HS&R Polaris International, sebagai junior auditor, sebelum memutuskan untuk mengambil Magister Manajemen di PPM Management Jakarta pada tahun 2009, dengan spesialisasi financial management. Setelah meraih gelar Magister Manajemen, Koko bekerja selama beberapa tahun di Kompas Gramedia Group sebagai seorang Tax Supervisor. Koko ditempatkan disalah satu unit usaha Kompas Gramedia Group yang bergerak dibidang property dan real estate, dengan sejumlah property diantaranya gedung Allianz Tower Kuningan Jakarta, Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) dan gedung Indonesia Convention and Exhibition (ICE) Serpong. Berbagai pekerjaan yang ditanganinya seringkali berkaitan dengan restitusi pajak, baik PPN maupun PPh Badan.

Tahun 2014 Koko berpindah kerja ke sebuah anak perusahaan BUMN, yakni anak perusahaan PT. PLN (Persero) yang Bernama PT. Haleyora Power di Bandung, yang bergerak dibidang jasa outsourcing untuk pemeliharaan jaringan listrik di seluruh Indonesia, sebagai seorang Tax Assistant Manager. Saat ini Koko bekerja sebagai seorang Tax Manager di Korindo Group Jakarta, sebuah perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) asal Korea Selatan, yang bergerak di berbagai bidang, seperti crude palm oil (CPO), plantation, trading, shipping, freight forwarding, property, manufacturing, mining, dan lain sebagainya.

Selain bekerja disebuah perusahaan, ternyata dunia pendidikan juga menarik minat bagi Koko untuk digeluti, dimana ia sejak tahun 2021 Koko juga tercatat sebagai dosen tetap di Universitas Bina Nusantara (BINUS) Jakarta. Berbekal gelar akademis magisternya, dan pengalaman yang telah dijalaninya selama ini, Koko dipercaya dalam mengajar 4 mata kuliah di BINUS, yakni mata kuliah Taxation, Advance Taxation, Corporate Taxation dan mata kuliah Tax Management & Strategy.

Roni Patar Situmorang

Direktur Keuangan

Roni Patar Situmorang adalah auditor, konsultan keuangan dan akuntan yang memiliki bermacam pengalaman pengelolaan keuangan di berbagai sektor industri. Mulai dari perbankan, industri keuangan, perkebunan, fashion hingga industri makanan/kuliner pernah dijalaninya dengan serius. Dalam industri makanan/kuliner, Patar, demikian ia biasa dipanggil, ia pernah mengelola keuangan untuk 9 unit restoran sekaligus untuk kurun waktu yang cukup lama. Selain itu, Patar juga memiliki pengalaman mengaudit keuangan untuk sektor non-profit/non-komersial, ketika ia bekerja untuk sebuah yayasan pendidikan di Jakarta.

Kini, setelah sekian puluh tahun malang melintang di dunia keuangan di sektor komersial, lulusan program pascasarjana manajemen keuangan Universitas Gadjah Mada ini memutuskan untuk terjun ke bidang pendidikan dengan menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi swasta terkemuka di Jakarta.

Pada pertengahan 2021, Patar bergabung dengan tim Senadi, dan memerkuat tim Senadi dengan kepakarannya di bidang manajemen keuangan.

Danang H. Prabowo

Pengawas

Danang adalah seorang arsitek profesional lulusan program studi arsitektur Universitas Parahyangan, Bandung, dengan jam terbang lebih dari 30 tahun. Sebagai seorang arsitek, Danang senantiasa mementingkan aspek estetika visual dalam rancangannya. Danang menyadari bahwa dalam perancangan sebuah program arsitektur, aspek sosio-kultural merupakan hal penting yang mutlak harus diperhatikan.

Selain sebagai seorang arsitek professional, Danang juga merupakan seorang akademisi dalam bidang arsitektur dengan jam terbang mengajar yang tinggi di beberapa perguruan tinggi swasta di Jakarta dan Tangerang.

Saat ini, Danang tengah menyelesaikan studi doktoralnya dalam bidang kajian permukiman di Universitas Parahyangan, Bandung.